Tuesday, 07 December 2004
Resep Sang Kaisar tersebut
tampaknya terlalu berlebihan. Namun, para peneliti di bidang kesehatan
kini mampu membuktikan khasiat sehat teh yang dapat memberikan daya
kekebalan tubuh untuk melawan berbagai penyakit serta memperpanjang
usia.
Teh ( Camellia sinensis)
merupakan tanaman asli Asia Tenggara dan kini telah ditanam di lebih
dari 30 negara. Dari 3.000 jenis yang ada, pada prinsipnya teh berasal
dari satu jenis tanaman dengan hasil perkawinan silangnya. Teh merupakan salah satu minuman yang paling populer
di dunia, dan posisinya berada pada urutan kedua setelah air. Dengan
perkembangannya ke berbagai belahan dunia, teh telah menjadi bagian
yang menyatu dengan tradisi setempat. Di Beijing, Cina, para peminum
teh lebih menyukai bila diaromai dengan wangi bunga melati yang kuat
dengan cara "membakar" daun teh terlebih dahulu dengan uap panas bunga
melati segar. Lain halnya dengan di Mongolia dan Inggris, peminum teh
lebih menyukai teh yang dicampur dengan susu sewaktu sarapan pagi. Dan
bagi sebagian besar orang Indonesia , teh bukanlah minuman yang asing
karena telah menjadi bagian dari budayanya.
Teh merupakan functional food
mengingat khasiat dan potensi yang terkandung di dalamn teh dapat
meningkatkan kesehatan tubuh dan merupakan sumber zat gizi. Mengingat
biaya kesehatan yang melambung tinggi dalam krisis ekonomi yang belum
juga berangsur pulih serta harga obat-obatan yang sudah tak terjangkau
lagi oleh kocek rakyat biasa, maka obat pun sekarang dapat
disetarakan dengan barang mewah. Dengan demikian, mempertahankan
kesehatan merupakan sesuatu yang sangat berharga dan tak ternilai.
Dalam upaya menjaga kesehatan tersebut, perilaku hidup sehat menjadi
begitu penting untuk dilakukan.
Makalah ini menyajikan kandungan dan manfaat nutrisi teh dan khasiat kesehatan lainnya.
Jenis teh
Pada dasarnya, teh diproses menjadi tiga jenis yaitu teh hijau , teh hitam , dan teh oolong .
Lebih dari tiga perempat teh dunia diolah menjadi teh hitam, salah satu
jenis yang paling digemari di Amerika, Eropa, dan Indonesia . Cara
pengolahannya, daun dirajang dan dijemur dibawah panas matahari
sehingga mengalami perubahan kimiawi sebelum dikeringkan. Perlakuan
tersebut akan menyebabkan warna daun menjadi coklat dan memberikan cita
rasa teh hitam yang khas.
Teh hijau,
jenis teh tertua, amat disukai terutama di Jepang dan Cina. Pada
pembuatannya, daun teh sedikit mengalami proses pengolahan, yaitu hanya
pemanasan dan pengeringan sehingga warna hijau daun dapat
dipertahankan. Teh oolong lebih merupakan jenis peralihan antara teh
hitam dan teh hijau. Umumnya teh oolong diproduksi dan dikonsumsi di
selatan Cina dan Taiwan . Pada teh oolong, dengan adanya proses
fermentasi, terdapat cita rasa dan karakteristik tersendiri. Meskipun
demikian, ketiga jenis teh tersebut memiliki khasiat dan potensi
kesehatan yang sama.
Kandungan bahan aktif Dalam teh
Teh mengandung komponen volatile sebanyak
404 macam dalam teh hitam dan sekitar 230 macam dalam teh hijau.
Komponen volatile tersebut berperan dalam memberikan cita rasa yang
khas pada teh.
Komponen aktif yang terkandung dalam teh, baik yang volatile maupun yang nonvolatile antara lain sebagai berikut.
1. polyphenols (10_25%)
2. methylxanthines
3. asam amino
4. peptida
5. komponen organik lain
6. tannic acids (9_20%)
7. vitamin C (150_250 mg%)
8. vitamin E (25_70 mg%)
9. vitamin K (300_500 IU/g)
10. ß-carotene (13_20%)
11. kalium (1795 mg%)
12. magnesium (192 mg%)
13. mangan (300_600 ug/ml)
14. fluor (0,1_4,2 mg/L)
15. zinc (5,4 mg%)
16. selenium (1,0_1,8 ppm%)
17. copper (0,01 mg%)
18. iron (33 mg%)
19. calcium (7 mg%)
20. caffein (45_50 mg%)
(diolah dari berbagai sumber)
Polyphenols
Teh
sebagian besar mengandung ikatan biokimia yang disebut polyphenols,
termasuk di dalamnya flavonoid. Flavonoid merupakan suatu kelompok
antioksidan yang secara alamiah ada pada sayur-sayuran, buah-buahan,
dan minuman seperti teh dan anggur.
Pada
tanaman, flavonoids memberikan perlindungan terhadap adanya stress
lingkungan, sinar ultra violet, serangga, jamur, virus, dan bakteri, di
samping sebagai pengendali hormon dan enzyme inhibitor.
Subkelas dari polyphenols meliputi flavones , flavonols , flavanones , catechins , antocyanidin , dan isoflavones . Turunan flavonols, quercetin dan turunan catechins, epi-catechin (EC), epigallo-catechin (EGC), epigallo-catechin gallate
(EGCg) umumnya ditemukan di dalam teh. EGCg dan quercetin merupakan
antioksidan kuat dengan kekuatan 100 kali lebih tinggi daripada vitamin
C dan 25 kali vitamin E yang juga merupakan antioksidan potensial.
Berikut ini adalah komposisi poyphenol teh hijau dan teh hitam.
Komponen |
Teh hijau (mg%) |
Teh hitam (mg%) |
Catechins |
210 |
63 |
Flavonoles |
14 |
21 |
Thearubigins |
0 |
28 |
Undefined |
266 |
273 |
Kafein |
45 |
50 |
Sumber: International Symposium on Health and Tea , 1998
Pada
teh hijau, catechins merupakan komponen utama, sedangkan pada teh hitam
dan teh oolong, catechins diubah menjadi theaflavin dan thearubigins.
Vitamin
Kandungan
vitamin dalam teh dapat dikatakan kecil karena selama proses
pembuatannya teh telah mengalami oksidasi sehingga menghilangkan
vitamin C. Demikian pula halnya dengan vitamin E yang banyak hilang
selama proses pengolahan, penyimpanan, dan pembuatan minuman teh. Akan
tetapi, vitamin K terdapat dalam jumlah yang cukup banyak (300-500
IU/g) sehingga bisa menyumbang kebutuhan tubuh akan zat gizi tersebut.
Mineral
Ternyata
teh cukup banyak mengandung mineral, baik makro maupun mikro yang
banyak berperan dalam fungsi pembentukan enzim di dalam tubuh sebagai
enzim antioksidan dan lainnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
teh merupakan sumber mineral yang menyehatkan.
Manfaat teh terhadap kesehatan
Menurunkan risiko penyakit kanker
Berbagai
hasil studi menunjukan konsumsi teh berperan dalam menurunkan risiko
penyakit kanker. Senyawa polyphenol dalam teh mampu memberikan
perlindungan terhadap zat karsinogenik. EGCg yang terdapat dalam teh
hijau merupakan senyawa aktif yang berperan dalam mencegah terjadinya
kanker.
Studi epidemiologis di Jepang
menunjukkan bahwa tingkat kematian akibat kanker penduduk yang mendiami
daerah produsen utama teh hijau amat sedikit. Suatu studi lainnya di
Jepang melaporkan bahwa catechin dapat membunuh Helicobacter pylori , yaitu bakteri pemicu kanker lambung.
Suatu studi di Iowa, Amerika Serikat yang diterbitkan dalam American Journal of Epidemiology edisi Juli 1996
terhadap lebih dari 35.000 wanita pascamenopause melaporkan bahwa teh
memiliki khasiat melawan kanker. Hasil studi tersebut menyimpulkan
mereka yang mengkonsumsi sekurangnya 2 cangkir teh hitam sehari akan
berkurang risikonya terkena kanker kandung kemih sebanyak 40%, dan 68%
pada penyakit kanker saluran pencernaan bila dibandingkan dengan mereka
yang tidak mengkonsumsi teh.
Berikut ini adalah teori yang berkembang bahwa teh memiliki kemampuan sebagai pencegah penyakit kanker.
1. Senyawa antioksidan dalam teh mencegah terjadinya kerusakan DNA oleh radikal bebas.
2. Polyphenol mencegah terjadinya pertumbuhan sel yang tidak terkendali sehingga mampu memperlambat perkembangan kanker.
3. Polyphenol tertentu mungkin menghancurkan sel-sel kanker dengan tanpa merusak sel-sel sehat di sekitarnya.
Menurunkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular
Penyakit
kardiovaskular antara lain terkait dengan kadar lipida darah, tekanan
darah, faktor homestatik, oksidatif stress, dan lain-lain. Beberapa
studi menunjukkan bahwa teh memiliki khasiat menurunkan risiko penyakit
kardiovaskular dengan menurunkan kadar kolesterol darah dan tekanan
darah.
Studi Zutphen di Belanda yang dilakukan terhadap usia lanjut melaporkan bahwa intake flavonoid
dari teh (61%), sayuran (10%), dan buah-buahan (13%) secara bermakna
berbanding terbalik dengan tingkat kematian akibat penyakit jantung dan
stroke. Hasil serupa juga diperoleh dari studi prospektif selama 25
tahun di 7 negara yang berpartisipasi dengan melibatkan jumlah sampel
sebanyak 12.763 orang. Kesimpulannya: Intake flavonoid yang
tinggi berkaitan erat dengan rendahnya tingkat kematian akibat penyakit
jantung. Demikian pula pada studi dengan menggunakan hewan coba tikus
yang diberi catechin teh hijau menunjukkan terjadinya penurunan
konsentrasi kolesterol darah dan tekanan darah.
Mekanisme
pencegahan teh terhadap penyakit kardiovaskular terdapat pada
kemampuannya menghambat penyerapan kolesterol dan menghambat
penggumpalan sel-sel platelet sehingga mencegah terjadinya penyumbatan
pembuluh darah. Polyphenol teh (catechin dan theaflavin) juga merupakan
antioksidan kuat yang mampu melindungi oksidasi LDL-kolesterol oleh
radikal bebas. Teroksidasinya kolesterol tersebut diduga berperan
penting dalam proses atherogenesis yaitu proses awal pembentukan plaque pada dinding arteri.
Menurunkan berat badan
Studi terbaru yang dilakukan terhadap potensi teh adalah peranannya membantu menurunkan berat badan seperti dilaporkan dalam American Journal of Clinical Nutrition, 1999 .
Penelitian tersebut dilakukan oleh Institute of Physiology , University
of Fribourg , Switzerland , yang melibatkan 10 orang sebagai sampel.
Para peneliti melakukan pengukuran 24 jam energi expenditure pada
subjek yang diberi kafein (50 mg), ekstrak teh hijau (50 mg kafein dan
90 mg EGCg), serta placebo. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa
pemberian ekstrak teh hijau secara bermakna meningkatkan 4% energi expenditure bila
dibandingkan placebo. Dari penelitian tersebut, teh hijau diketahui
mempunyai potensi sebagai thermogenesis sehingga mampu meningkatkan
pembakaran kalori dan lemak yang berimplikasi terhadap penurunan berat
badan.
Hasil studi ini menjanjikan
potensi penggunaan ekstrak teh hijau dalam program penurunan berat
badan, di samping melakukan pembatasan konsumsi kalori (diet).
Mencegah osteoporosis
Osteoporosis
atau pengeroposan tulang merupakan salah satu masalah yang dihadapi
wanita pascamenopause manakala telah terhentinya produksi hormon
estrogen _ pemicu pertumbuhan tulang. Osteoporosis menyebabkan massa
tulang menyusut dan mudah patah.
Studi
terbaru yang dilakukan di Inggris menunjukkan bahwa kebiasaan minum teh
secara teratur dapat mempertahankan keutuhan tulang dan mencegah
terjadinya osteoporosis. Hasil penelitian tersebut dilaporkan dalam American Journal of Clinical Nutrition edisi
April 2000 dengan melibatkan jumlah sampel wanita berusia 65 hingga 76
tahun sebanyak 1.200 orang di Cambridge, Inggris. Kesimpulan yang
diambil adalah wanita yang mengkonsumsi teh ternyata memiliki ukuran
kerapatan mineral tulang (Bone Mineral Density/BMD) lebih tinggi
dibandingkan mereka yang tidak minum teh secara bermakna.
Senyawa
aktif yang terkandung di dalam teh berperan menyerupai hormon esterogen
lemah yang membantu melindungi tulang terhadap proses kerapuhan
(osteoporosis).
Sumber mineral
Teh
ternyata menyimpan potensi sebagai sumber mineral tubuh yang penting
dalam berbagai proses metabolisme. Kandungan mineral tersebut muncul
baik berupa makro maupun trace mineral. Keduanya sangat diperlukan sebagai nutrisi bagi tubuh sehingga kecukupan dalam makanan sehari-hari perlu diperhatikan.
Magnesium yang
terkandung dalam jumlah yang cukup banyak dalam teh penting dalam
peranannya pada reaksi seluler. Selain itu, magnesium terlibat dalam
300 macam enzim dalam metabolisme tubuh, di samping berperan sebagai
pengatur elektrolit tubuh, hormon receptor, metabolisme vitamin D, dan
pembentukan tulang. Teh berpotensi sebagai sumber magnesium bagi tubuh.
Kalium yang merupakan mineral
utama dalam menjaga keseimbangan elektrolit tubuh turut berperan pula
dalam metabolisme energi, transportasi membran, dan mempertahankan
permeabilitas sel. Selain itu, kalium berfungsi dalam menyampaikan
pesan syaraf otot ( neuromuscular ). Teh memiliki banyak kandungan mineral ini.
Fluor
telah diketahui banyak terdapat dalam teh dan fungsinya penting dalam
mempertahankan dan menguatkan gigi agar terhindar dari karies. Studi
laboratorium di Jepang menemukan bahwa teh membantu mencegah
pembentukan plak gigi dan membunuh bakteri mulut penyebab pembengkakan
gusi.
Natrium juga terkandung di
dalam teh sebagai salah satu mineral utama. Seperti halnya kalium,
fungsi natrium dalam tubuh berperan erat dalam mengatur keseimbangan
elektrolit.
Kalsium merupakan
mineral penting dalam proses pembentukan tulang. Mineral ini diduga
turut berperan dalam memperbaiki tulang para konsumen teh.
Dalam teh juga terkandung unsur Fe , namun bioavailability -nya kurang sehingga tubuh tidak dapat memanfaatkannya secara maksimal.
Seng
penting peranannya dalam proses metabolisme tubuh dan berperan erat
dalam pertumbuhan dan perkembangan, sintesis vitamin A, sistem immune tubuh dan pembentukan enzim pemunah radikal bebas. Kandungan seng yang cukup tinggi merupakan salah salah satu keunggulan teh.
Mangan
merupakan ko-enzim berbagai metallo enzim dan juga sebagai enzim
aktivator. Metallo enzim tersebut (MnSOD) berperan penting dalam
menghancurkan radikal bebas. Konsentrasinya yang relatif tinggi mampu
menyumbang 10% kebutuhan tubuh.
Cu semakin
penting peranannya dalam berbagai metabolisme tubuh dan salah satu
fungsinya sebagai pemusnah radikal bebas. Mengingat peranannya sebagai
enzim antioksidan tersebut, kandungan Cu dalam teh berpotensi
menurunkan peluang terkena penyakit degenaratif.
Trace mineral lain yang terkandung dalam teh adalah selenium yang merupakan salah satu mineral yang berperan dalam pembentukan enzim antioksidan _ glutation peroxidase . Selain itu, selenium juga sangat erat hubungannya dengan metabolisme yodium.
Manfaat vitamin
Kandungan
vitamin pada teh tidak begitu banyak dibandingkan dengan mineral.
Proses pengolahan teh menyebabkan sebagian besar vitamin hilang akibat
teroksidasi.
Kandungan vitamin C pada
teh sekitar 100-250 mg, tetapi ini hanya terdapat pada teh hijau yang
proses pembuatannya relatif sederhana. Demikian pula halnya dengan
kandungan vitamin E yang hilang selama proses pembuatannya.
Meskipun
demikian, teh masih mengandung vitamin K dengan kadar 300-500 IU setiap
gramnya. Vitamin K sangat penting dalam proses pembekuan darah, dan
menurut penelitian lain turut pula berperan dalam proses pembentukan
tulang. Oleh karena itu, kebutuhan intake vitamin K sebagian dapat terpenuhi dengan minum teh.
Penutup
Teh
merupakan minuman fungsional yang memiliki potensi dan khasiat tinggi
terhadap kesehatan tubuh. Agar memperoleh hasil dan manfaat yang
maksimal, diperlukan kebiasaan minum teh secara teratur. Untuk itu,
biasakanlah untuk minum teh minimal 4_5 gelas setiap hari. Jumlah
tersebut cukup untuk memperoleh manfaat dari senyawa yang terkandung
dalam teh.
Daftar pustaka
Craig WJ. 1999. "Health-Promoting Properties of Common Herbs". Am. J. Clin. Nutr. , 70 (suppl): 491s-9s.
Dullo AG, Duret C, et al .
1999. "Efficacy of a Green Tea Extract in Catechin Polyphenols and
Caffeine in Increasing 24-h Energy Expenditure and Fat Oxidation in
Humans". Am. J. Clin. Nutr. ; 70: 1040-5.
Hegarty VM, Helen WM, Kay-Tee K. 2000. "Tea Drinking and Bone Mineral Density in Older Women". Am. J. Clin. Nutr. ; 71:1003-7.
Hertog
MGL, Freskens EJM, Holman PCH, Katan MB, Kramhout D. 1993. Dietary
Antioxidant Flavonoids and Risk of Coronary Heart Disease; the Zutphen
Elderly Study. Lancet; 342:1007-11.
Holman PCH. 1997. "Bioavailability of Flavonoids". Eu. J. Clin. Nutr . 51, suppl 1, S 66-S69.
Kathy
R. Phipps. Fluoride in Ziegler EE and Filer jr (eds). 1996. Present
Knowledge in Nutrition. ILSI Press, Washington , DC : pp 334-343.
Keen
C.L. and Cherr S.Z. Manganese in Ziegler EE and Filer jr (eds). 1996.
Present Knowledge in Nutrition. ILSI Press, Washignton DC : pp 334-343.
Laporan Simposium International Teh dan Kesehatan , Sydney , 30 April-1 Mei 1998.
Licher S, Tea's reputation as a healthy brew increasing , http//www.webMD.com |