Monday, 30 May 2005
Lemak
Penelitian pada
binatang membuktikan bahwa diet bebas lemak dapat mengurangi
pertumbuhan tumor ganas prostat. Sebaliknya, diet tinggi lemak
menyebabkan pertumbuhan sel-sel kanker prostat lebih cepat.
Peranan lemak dalam
meningkatkan risiko kanker prostat terjadi dengan beberapa mekanisme.
Pertama, dibuktikan bahwa lemak dapat mempengaruhi kadar testosteron,
suatu hormon yang diperlukan untuk pertumbuhan sel-sel prostat baik
jinak maupun ganas. Pria yang mengonsumsi sedikit lemak akan mempunyai
kadar hormon testosteron yang relatif rendah.
Kedua, lemak adalah
sumber radikal bebas, dan yang ketiga adalah hasil metabolisme asam
lemak diduga merupakan zat karsinogenik. Contohnya adalah asam lemak
tidak jenuh omega-6 yang dapat memacu pertumbuhan sel kanker prostat.
Korelasi antara
konsumsi lemak dan risiko kanker prostat juga dibuktikan pada beberapa
penelitian epidemiologik. Giovannucci dan kawan-kawan (1993) melakukan
penelitian prospektif tentang hubungan antara diet dan kanker prostat.
Penelitian ini membuktikan bahwa diet tinggi lemak meningkatkan risiko
berkembangnya kanker prostat lanjut.
Selain itu, masih
ada beberapa penelitian lain yang menunjang antara lain suatu studi
kohort di Hawaii. Sayangnya, beberapa penelitian epidemiologik lain
gagal untuk membuktikan hal serupa antara lain adalah studi prospektif
di Norwegia.
Dengan demikian,
walaupun banyak penelitian epidemiologik dan studi biologik yang
membuktikan adanya hubungan antara diet tinggi lemak dan risiko kanker
prostat, masih diperlukan tambahan penelitian epidemiologik untuk
membuktikan hal ini secara pasti.
Kedelai
Perbedaan yang nyata
antara diet masyarakat Asia dan negara-negara Barat adalah pada
konsumsi produk-produk kedelai. Studi epidemiologik melaporkan, bahwa
masyarakat Asia mengonsumsi produk kedelai dalam jumlah banyak,
sedangkan insiden kanker prostatnya rendah.
Kedelai mengandung
beberapa bahan yang mempunyai aktifitas estrogenik lemah.
Phytooestrogen ini, atau isoflavon, diduga mempunyai kemampuan
antikarsinogenik.
Genistein adalah
isoflavon yang paling banyak dijumpai dalam produk-produk kedelai,
mempunyai kemampuan menghambat reseptor tirosin kinase seperti EGFR dan
her-2/neu yang keduanya berdampak pada proses terjadinya kanker
prostat.
Mekanisme lain
adalah kemampuan Genistein untuk mengurangi ekspresi reseptor androgen
dan reseptor estrogen dalam jaringan prostat. Pengurangan
reseptor-reseptor androgen dan estrogen dapat menyebabkan rendahnya
insiden kanker prostat pada populasi yang banyak mengonsumsi diet yang
mengandung banyak phytooestrogen.
Wang dan kawan-kawan
(2002) menguji hipotesa efek penghambatan genistein pada binatang
percobaan dan berhasil membuktikan bahwa diet ini dapat digunakan untuk
proteksi pertumbuhan kanker prostat.
Selain itu, juga
terdapat beberapa studi pada binatang percobaan yang membuktikan hal
tersebut, salah satunya bahkan dapat membuktikan efek penghambatan
isoflavon terhadap pertumbuhan sel kanker prostat yang dipicu oleh diet
tinggi lemak.
Pada penelitian
klinik, Jacobsen dan kawan-kawan (1998) menyimpulkan bahwa pria yang
mengonsumsi susu kedelai mempunyai insiden terjadinya kanker prostat 70
persen lebih rendah dibanding yang tidak mengonsumsi. Namun demikian,
penelitian ini hanya mempunyai kekuatan statistik yang rendah di mana
mungkin masih ada faktor-faktor diet lain yang menyebabkan hal
tersebut.
Dengan demikian, masih diperlukan penelitian tambahan guna memastikan peran kedelai untuk pencegahan kanker prostat.
Likopen
Likopen adalah zat
karotenoid yang didapat pada konsentrasi tinggi dalam tomat dan
merupakan suatu antioksidan yang kuat. Beberapa studi kasus-kontrol dan
studi prospektif menyimpulkan, bahwa konsumsi tomat atau produk-produk
tomat dapat berhubungan dengan rendahnya risiko kanker prostat.
Walaupun saat ini
belum dapat dipastikan, keuntungan ini lebih banyak dalam hal mencegah
perluasan atau agresifitas kanker prostat. (Miller dan kawan-kawan,
2002)
Proses pemasakan
buah tomat tampaknya tidak mengurangi keuntungan ini, malah sebaliknya
akan meningkatkan bioavailabilitas komponen-komponen yang berguna.
Mekanisme kerja
likopen untuk mengurangi risiko kanker prostat belum diketahui secara
jelas sampai saat ini. Kemungkinannya adalah kemampuan proteksi likopen
terhadap proses penuaan sel-sel epitel prostat yang disebabkan oleh
spesies oksigen reaktif.
Hal lain adalah
kemampuan likopen untuk menghambat proliferasi sel melalui hambatan
fosforilase tirosin reseptor IGF seperti yang dibuktikan oleh Karas dan
kawan-kawan (2000), pada sel-sel kanker payudara.
Sekurangnya,
terdapat empat studi kohort yang telah melaporkan adanya hubungan
antara konsumsi lycopene dan risiko kanker prostat. Gioannucci (1999)
melaporkan penurunan risiko kanker prostat sebesar 21 persen pada pria
yang mengonsumsi likopen dalam jumlah besar.
Penelitian lain juga
melaporkan, bahwa populasi yang mengonsumsi likopen tinggi mempunyai
risiko 36 persen lebih rendah dibanding populasi yang mengonsumsi
likopen sedikit.
Gann dan kawan-kawan
(1999) melaporkan bahwa pria dengan kadar likopen tinggi dalam darah
berisiko lebih rendah 25 persen terkena kanker prostat.
Penelitian-penelitian
di atas juga melaporkan bahwa konsumsi jus tomat (tanpa proses
pemasakan) tidak mempunyai efek pencegahan, sehingga disimpulkan bahwa
proses pemasakan justru akan meningkatkan bioavailibilitas likopen.
Selain ketiga diet
tersebut, masih ada beberapa bahan diet lain yaitu vitamin E, selenium,
dan teh hijau yang kemungkinan juga mempunyai kemampuan untuk
mengurangi risiko kanker prostat. Ketiga bahan ini dikenal sebagai
antioksidan, namun sampai saat ini belum ada kepastian mekanisme
kerjanya dan juga belum didukung oleh penelitian epidemiologik atau
klinik lainnya.
dr Rainy Umbas PhD SpU
Subbagian Urologi, Bagian Bedah FKUI/RSCM dan Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta |